Diantara souvenir yang menjadi incaran mahasiswa adalah baju kaos Mesir. Baju kaos ini bergambarkan piramid, sphink, patung orang Mesir kuno dan ada juga yang bertuliskan “ welcome to Egypt” Dimana semua ikon tersebut adalah identitas kebudayaan Mesir yang sangat dibanggakan.
Souvenir lainnya adalah gantungan kunci yang bentuknya mengambarkan peradaban Mesir silam. Kertas papirus yang menjadi kertas fenomenal sebelum masehi juga menjadi incaran mahasiswa. Tak kalah menarik dan menjadi salah satu barang utama dalam berbelanja lainnya adalah buah kurma Mesir. Buah kurma yang populer disebut dengan balah bilus ini terdiri dari berbagai macam bentuk. Ada kurma biasa, kurma dengan coklat di dalam ada juga kurma dengan coklat diluar.
Aseksoris piramid yang cantik nan indah punya tempat tersendiri di hati para mahasiswa. Tak cukup itu, beberapa botol minyak zaitun tak boleh tidak untuk dibawa pulang. Selendang pashmina yang sangat populer di Indonesia juga ada disini, walaupun konon kabarnya selendang Turki lebih punya nilai, namun selendang pashmina Mesir pun tak kalah menarik.
Namun satu hal yang harus diingat adalah pasar Khan Khalili sebenarnya hanya diperuntukkan untuk turis saja. Para mahasiswa disini tentu harus pandai melakukan tawar menawar dan sedikit basa basi dengan pedagang agar harga penjualan tetap sesuai dengan standar mahasiswa.
Pasar Khan Khalili akan memperlihatkan kepada kita betapa bangsa Mesir sangat ramah dalam menyambut tamu. Itu terlihat ketika terjalin mu’amalah pedagang dengan pembeli. Biasanya untk memikat hati pembeli dari Asia Tenggara, Indonesia khususnya. Mereka berseru dengan sangat fasih “harga murah... harga murah...!”
Untuk melihat karakter mahasiswa juga bisa kita temukan di Khan Khalili ini, khususnya antara mahasiswa Indonesia dengan Malaysia. Umumnya mahasiswa Indonesia sangat suka berlama-lama dalam berbelanja dan banyak basa-basi dalam menawar harga. Ciri khas mahasiwa Indonesia ini berbanding jauh dengan mahasiswa asal Malaysia. Mereka tak buang-buang waktu, hanya sekali tawar proses jual-belipun selesai. Mungkin budaya ini terkait dengan tingkat kesejahteraan hidup mahasiswa di kedua negara, wallahu ‘alam.
0 Komentar