TAMAN Al-Azhar yang dalam bahasa Arab disebut Hadiqah Al-Azhar adalah
taman indah penuh bunga. Ini sesuai dengan makna dari hadiqah azhar itu
sendiri yang berarti taman bunga. Taman Al-Azhar terletak tidak begitu
jauh dari Kampus Universitas Al-Azhar, di kawasan Darrasah, Maidan
Hussein, Kairo.
Berkunjung ke taman ini ada kenikmatan tersendiri
yang dirasakan para penuntut ilmu setelah lelah dan penat dalam
kesibukan akademik. Saya sendiri setelah mendiami Maidan Hussein sering
berkunjung ke taman ini pada sore hari. Biasanya jogging di taman ini
menjadi alternatif yang menyegarkan pikiran, sambil menikmati berbagai
sisi keindahan taman. Inilah taman yang penuh pesona.
Untuk masuk
ke Taman Al-Azhar kita harus beli tiket lebih dulu seharga 5 LE (lira
Mesir) untuk pelajar dan mahasiswa. Hampir setiap harinya taman ini
ramai dikunjungi anak-anak, kawula muda, dewasa, sampai kakek nenek.
Taman Al-Azhar ini juga sangat coccok sebagai tempat rekreasi dan reuni
keluarga.
Taman Al-Azhar juga bisa dimanfaatkan untuk belajar
sendiri atau kelompok, apalagi jika tempat yang kita pilih berada di
depan kolam pada sebuah sudut taman. Menggali inspirasi adalah satu hal
penting yang tak boleh disia-siakan ketika berada di taman ini. Tidak
heran jika banyak juga dari pengunjung yang membawa laptop untuk
menelurkan karyanya, merangkai kata, di taman penuh pesona ini.
Taman
Al-Azhar merupakan aset wisata yang dirawat dengan penuh kesungguhan
dan nilai estetika. Bunga dan pepohonan dalam berbagai ukuran dan jenis
senantiasa ditata anggun dan rapi. Ketika berada di dalamnya, seakan
kita tidak lagi menyadari bahwa sedang berada di negeri Mesir yang
makruf dengan tanahnya yang tandus.
Tak dapat dipungkiri bahwa
di tengah kelebihannya sebagai sebuah taman ilmu, Hadiqah Al-Azhar ini
tak luput pula dari hal negatif akibat arus wasternisasi yang melanda
Mesir. Buktinya, di taman ini ada juga muda-mudi Mesir postmodern yang
melabrak batas-batas agamanya. Tapi yang terpenting adalah suatu hal
yang bijak jika kita mampu mengambil segala sisi kebaikan dari setiap
celah Taman Al-Azhar. Pesan-pesan positif yang digaungkan taman ini,
itulah yang seharusnya selalu kita kenang dari taman impian ini.
Di
sisi lain, berkunjung ke Taman Al-Azhar telah mengingatkan saya pada
“Taman Ghirah” yang dibangun Sultan Iskandar Muda untuk permasurinya,
Putroe Phang di tengah Koetaradja (Banda Aceh sekarang ini). Walaupun
taman tersebut adanya pada abad 17, namun tidaklah berlebihan jika kita
katakan bahwa Taman Al-Azhar merupakan reinkarnasi dari Taman Ghirah-nya
Iskandar Muda pada abad 21 ini.
Ada baiknya pemerintah baru
Aceh menggagas proyek untuk membangun satu taman indah model Hadiqah
Al-Azhar ini, yakni dengan dilandasi semangat menjalankan syariat Islam.
Taman itu kelak selanjutnya terakses dengan kampus “jantong hate”
rakyat Aceh, yakni Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry, sebagai
upaya untuk lebih menggairahkan kehidupan pendidikan tinggi di Aceh yang
berestetika. Saya berkhayal, taman ini kelak berfungsi sebagai tempat
mengulang (muraja’ah) ilmu, tapi harus ada pemisahan secara ketat antara
kaum lelaki dan perempuan. Untuk urusan ini, Aceh pasti bisa.
0 Komentar