Perang Aceh atau lebih tepatnya perang
Belanda di Aceh tahun 1873 benar-benar mempermalukan Belanda di hadapan dunia.
Surat kabar The New York Times edisi Sabtu, 3 Mei 1873 menulis
tentang perang Belanda di Aceh dengan judul The
War in Sumatera. Selanjutnya surat kabar The
New York Times edisi Selasa,
6 Mei 1873 menulis berita tentang perang Aceh dengan judul “Belanda kalah di
Sumatera”. Surat kabar Inggris juga turut menulis perang Aceh ini di halaman
utamanya, surat kabar The
Economist, The Spectator, The London Times. Demikian juga
dengan surat kabar di Turki, Bashirat menulis tentang perang Aceh.
Aceh di Mata Dunia menjadi salah satu
karya besar Dr Hasan Tiro yang sangat penting. Sebagaimana ditulis Haikal Afifa bahwa Hasan Tiro telah menempatkan
nasionalisme keacehan dengan sangat baik. Jika selama ini para sejarawan
melihat sejarah Aceh dalam sudut pandang Indonesia, maka Hasan Tiro memandang
sejarah Aceh; duduk sama rendah, tegak sama tinggi dalam paradigma sejarah
Indonesia.
Sebenarnya perang dengan Belanda tidak
pernah berakhir sampai Belanda keluar dari Aceh pada tahun 1942. Selama 31 tahun (
1911-1942), Belanda
kehabisan taktik sehingga memecah
belah Aceh menjadi 116 kerajaan kecil dan memaksa raja-raja kecil untuk
menandatangani surat pengakuan (Korte verklaring) kedaulatan Belanda di
Aceh. Sementara para tokoh pejuang yang dipimpin ulama masih eksis di
hutan-hutan. Secara hukum internasional, Belanda mestinya harus mendapatkan
surat menyerah dari para pejuang ini.
Generasi Aceh tahun 1873 tahu benar
bagaimana hidup dengan terhormat, betapa
perang benar-benar diformat dalam kaca mata Islam fi sabilillah; Hidup mulia atau
mati syahid. Hidup bagi generasi Aceh masa lalu adalah sebuah kemuliaan, kita
lebih baik mati daripada hidup sebagai budak dari bangsa lain, tulis Dr Hasan
Tiro. Hal ini tercermin dalam hadih maja; Hadjat
aneuk tadong
beukeng, beu meuglong lagee geupula. (Hikayat Putroe Peukison).
Dalam buku ini, Hasan Tiro membagi
sejarah Aceh ke dalam tiga tahap, tahap I perang Belanda-Aceh 5 April -23 April
1873, tahap II Desember 1873 - Desember 1911, dan tahap III, Desember 1911- Maret 1942. Perang
Aceh-Belanda telah menjadi drama kebangsaan yang sangat indah. Generasi 1873
telah mengajarkan kepada anak cucunya tentang kehormatan dan harga diri, bahkan
kaum Kristen di Amerika sebagaimana di tulis dalam surat kabar New York Time
edisi Kamis, 15 Mei 1873 belajar banyak dari perang Aceh-Belanda, betapa
kekuatan besar yang penuh kesombongan dapat dikalahkan oleh bangsa yang sangat
gigih berjuang dan tidak takut mati.
Sejarah mencatat tentang kekuatan
armada Belanda yang sangat kuat, melebihi kekuatan armada Perancis, Inggis dan
Spanyol. Ketika ekpedisi pertama Belanda ke Aceh, ternyata Belanda gagal. Dalam
sejarah setiap bangsa yang berjuang pasti mengalami kekalahan dan kemenangan,
kita tak selamanya menang,
karena itu bangsa-bangsa di dunia ini selalu memperingati hari kemenangannya.
Dua abad sebelumnya Aceh telah berhasil mengalahkan Purtugis di Malaka dengan
kekuatan 500 kapal perang dan 60 ribu ribu tentara. Aceh giat memperluas
wilayah kekuasaan, meningkatkan ekonomi serta membina hubungan baik dengan
bangsa-bangsa Eropa.
Peta yang dibuat Inggris memperlihatkan wilayah defacto dan dejure kerajaan Aceh pada tahun 1883, sepuluh
tahun setelah Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Dalam peta tahun 1708 yang
dibuat Perancis batas
kerajaan Aceh yakni sebelah selatan yang ada di dalamnya Negeri Padang, sebelah timur berbatasan
dengan sungai Kampar. Di
bawah peta tersebut terdapat keterangan, bahwa Aceh merupakan sebuah negara
yang menjalin hubungan sangat baik dengan dunia luar, sementara pulau Jawa saat itu
telah menjadi jajahan Belanda yang berpusat di Batavia.
Ada pesan penting dari buku Hasan Tiro ini yaitu mengajak
anak-anak muda Aceh untuk terus menulis dan banyak membaca. Ini sebenarnya
pesan tersirat yang terkandung dalam Aceh di Mata Dunia. Hasan Tiro mengawali
buku ini dengan pertanyaaan yang sangat dalam, pakriban geutanyoe Aceh ta kalen
droe? Pertanyaan untuk para
generasi muda Aceh yang hanya bisa dijawab dengan banyak membaca dan menulis.
Sehingga urueng Aceh dapat mudah membangun kualitas
diri. Mengetahui sejarah itu sangat penting, ibarat kaca pion sehingga kita
tahu berjalan ke depan, namun jangan sampai sejarah membuat kita terlena. Aceh dimata dunia berhasil dibangun dengan sangat baik pada masa
lalu, tugas kita hari ini
adalah bagaimana membangun dan menjaga marwah Aceh dalam khazanah Aceh baru.
* Tulisan ini disajikan dalam Acara
diskusi dan bedah buku Aceh di Mata Dunia di Meuligoe Keluarga Mahasiswa Aceh
(KMA) Mesir Kamis, 27 Februari 2014.
0 Komentar