Advertisement

Andalus, Lidah Penguasa dan Luka Publik


Sejarah peradaban sering kali tidak runtuh oleh satu serangan besar yang datang dari luar, melainkan melemah secara perlahan dari dalam melalui kebiasaan kecil yang  berulang. Salah satu kebiasaan paling berbahaya itu adalah kegagalan para pemegang amanah dalam menjaga lidah. Ketidakmampuannya  menjaga lisan menjadikan bumerang adanya pengkhianatan. Pada akhirnya melahirkan kebijakan yang terlepas dari kenyataan hidup rakyat.

Andalus sebagai peradaban Islam yang pernah berdiri megah dengan ilmu, adab, dan kebudayaan tinggi, mengalami kemunduran bukan semata karena kekuatan musuh, tetapi karena lidah para penguasanya lebih sibuk memoles citra. Dalam fase kemunduran itu, sejarah mencatat hadirnya Yusuf bin Tasyfin dari Maghrib, seorang pemimpin yang mampu mengemabalikan marwah  muslimin  Andalus di tanah Eropa.

Pada masa yang sama, ulama besar Andalus, Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Hazm mewariskan nasihat  agar manusia terutama mereka yang diberi amanah  agar menjaga lidahnya, karena banyak kerusakan dalam kehidupan bersama bermula dari ucapan yang tidak ditimbang dengan ilmu dan tanggung jawab.

Nasihat ini seharusnya dibaca sebagai prinsip kepemimpinan, di mana lidahnya pemegang kebijakan bukan lagi milik pribadi, ia wujud sebagai bagian dari nasib publik. Kalimat yang dilontarkan  ke ruang publik membawa pengaruh  tingkat kepercayaan masyarakat kepada negara.

Dalam konteks hari ini, kegagalan menjaga lidah tampak dalam pernyataan pernyataan penguasa yang terlalu mudah menjanjikan kepastian kepada publik, seolah persoalan dapat diselesaikan dengan kalimat optimistis, padahal kesiapan nyata belum sepenuhnya ada, sehingga lidah justru melangkah lebih cepat daripada kemampuan, dan kata kata yang dimaksudkan untuk menenangkan berubah menjadi sumber kekecewaan.

Janji bahwa listrik akan menyala normal beberapa waktu lalu misalnya, disampaikan dengan penuh keyakinan, namun kemudian berhadapan dengan kenyataan pemadaman yang terus berulang, sehingga yang terganggu tidak hanya kenyamanan hidup, tetapi juga rasa percaya publik.

Posting Komentar

0 Komentar