Advertisement

Konsekuensi Beriman dan Sunnatullah Ujian

Iman bukan sekadar pengakuan lisan. Sejak awal Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap klaim keimanan pasti diuji. Allah Ta‘ala berfirman, “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2). Ayat ini menegaskan satu sunnatullah yang tak berubah: siapa yang memilih jalan iman, siapa yang berani berkata benar, jangan pernah heran bila ujian datang menyapa. Ujian bukan selalu tanda murka, justru sering menjadi tanda cinta dan pemilihan dari Allah bagi hamba-Nya.

Kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi cermin paling jernih tentang keberanian berkata benar yang berbuah ujian. Ujian itu bahkan datang dari lingkungan terdekat: keluarga sendiri. Ketika Ibrahim menasihati ayahnya, Azar, dengan tauhid dan akal sehat, yang datang justru ancaman keras, “Jika engkau tidak berhenti, aku pasti akan merajammu” (QS. Maryam: 46). Namun Ibrahim tidak membalas dengan kemarahan atau kebencian. Jawabannya justru penuh adab dan kelembutan, “Semoga keselamatan bagimu, aku akan memohonkan ampun untukmu kepada Tuhanku” (QS. Maryam: 47). 

Di sinilah iman bertemu akhlak: kebenaran disampaikan dengan keteguhan, tetapi tanpa kehilangan adab.
Ibrahim juga mengajarkan bahwa iman tidak bertentangan dengan akal. Ia membongkar logika sesat kaumnya dengan menunjukkan bahwa bintang, bulan, dan matahari hanyalah makhluk yang tenggelam dan sirna. “Aku tidak suka kepada yang tenggelam” (QS. Al-An‘am: 76), katanya, sebelum menegaskan arah hidupnya, “Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi” (QS. Al-An‘am: 79). 

Tauhid bukan sekadar warisan, melainkan kesadaran yang lahir dari perenungan dan kejujuran akal.Keberanian itu mencapai puncaknya ketika Ibrahim menghancurkan berhala-berhala kaumnya. Saat ditanya siapa pelakunya, ia menjawab dengan kecerdasan iman, “Sebenarnya yang melakukannya adalah berhala yang besar ini, tanyakanlah kepada mereka jika mereka dapat berbicara” (QS. Al-Anbiya: 63). 

Ketika kebatilan kalah oleh akal dan hujjah, kekuasaan biasanya beralih kepada kekerasan. Maka Ibrahim pun dijatuhi hukuman dibakar hidup-hidup. Namun di titik inilah pertolongan Allah turun dengan cara yang tak pernah dibayangkan manusia, “Wahai api, jadilah engkau dingin dan penyelamat bagi Ibrahim” (QS. Al-Anbiya: 69). Api yang membakar logika manusia justru tunduk kepada perintah Allah.


Ujian Ibrahim tidak berhenti di sana. Ia diuji melalui keluarga dan anak. Ketika meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah gersang, Ibrahim hanya bersandar pada doa, “Wahai Tuhan kami, aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak bertanaman” (QS. Ibrahim: 37). Puncak ujian itu datang ketika ia diperintahkan menyembelih Ismail. Al-Qur’an menggambarkan momen kepasrahan total itu, “Ketika keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya” (QS. Ash-Shaffat: 103). Namun sekali lagi, ketaatan dibalas dengan rahmat, “Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar” (QS. Ash-Shaffat: 107).


Kisah serupa tampak pada Nabi Musa ‘alaihissalam. Sejak bayi, hidupnya sudah berada di ambang bahaya. Allah mewahyukan kepada ibunya sesuatu yang secara logika tampak mustahil, “Susuilah dia, dan jika engkau khawatir, hanyutkanlah dia ke sungai” (QS. Al-Qashash: 7). Namun di balik ketakutan itu, Allah sedang menyusun skenario keselamatan. Musa tumbuh menjadi sosok yang kelak diakui karena dua sifat utama: kuat dan amanah, sebagaimana pengakuan putri Nabi Syuaib, “Sesungguhnya orang terbaik yang engkau ambil bekerja adalah yang kuat dan terpercaya” (QS. Al-Qashash: 26).


Ketika Musa telah siap, Allah mengutusnya menghadapi penguasa paling zalim pada masanya, “Pergilah kepada Fir‘aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas” (QS. Thaha: 24). Dakwah kepada kekuasaan tiran selalu menuntut keberanian, kesabaran, dan kesiapan menanggung risiko.

Rasulullah kemudian menegaskan sunnatullah ini dalam sabdanya, “Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian orang-orang saleh, lalu yang semisalnya” (HR. Tirmidzi). Ujian adalah ukuran kualitas iman, bukan tanda kegagalan hidup.

Maka ketika Aceh hari ini diuji dengan bencana alam, luka sosial, dan berbagai kegelisahan kolektif, kita tidak boleh tergesa menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkan negeri ini. Sebaliknya, boleh jadi ini adalah panggilan agar kita kembali kepada-Nya, meluruskan iman, memperbaiki akhlak, dan berani berkata benar di tengah berbagai kebatilan. Sebab sejarah para nabi mengajarkan satu hal: di balik ujian, selalu ada kemuliaan bagi mereka yang bersabar dan tetap berada di jalan Allah.



(Resume Khutbah Jumat UAS Di Masjid Al Falah Kita Sigli, Pidie, 26 Desember 2025) 

Posting Komentar

0 Komentar