Advertisement

Dari Kesalihan Pribadi Menjadi Pelopor Kebaikan (Muslih)

 

Satu hal yang pasti bahwa kita semua hari ini sedang menjalani kehidupan di bagian masa yang disebut akhir zaman. Rasulullah telah menyampaikan realitas masa ini kepada kita. Dengan segala kasih sayang dan kelembutan hatinya kepada umat, beliau tidak membiarkan kita berjalan dalam kegelapan.

Beliau telah memberikan peta panduan tentang bagaimana seharusnya umat Islam bersikap. Namun di sisi lain, dalam setiap untaian sabda Rasulullah  mengenai akhir zaman, tersimpan kabar dan berita yang menakutkan bagi siapa saja yang tidak memiliki persiapan iman.

Peringatan tentang hari kiamat dan tanda-tandanya diturunkan bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan sebagai hikmah agar kita melakukan persiapan yang baik. Kita diingatkan agar tidak terbuai oleh sifat Maha Halim-nya Allah. 

Allah Maha Penyantun dan Maha Menahan Diri, Dialah yang tidak menyegerakan azab bagi hamba-hamba-Nya yang durhaka agar mereka mau bertaubat. Maka, setiap kali kita melihat tanda akhir zaman tegak di depan mata, hal itu harus menjadi alarm keras (reminder) bagi kita untuk bergerak lebih cepat mengambil langkah nyata, membenahi diri, dan memperbanyak amal saleh.

Rasulullah  secara tegas memerintahkan kita untuk berpacu dengan waktu sebelum fitnah akhir zaman mengunci ruang gerak kita. Beliau bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنَ الدُّنْيَا

Artinya: "Bersegeralah kamu sekalian melakukan amal-amal shalih sebelum datangnya fitnah (kekacauan) seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Seseorang di pagi hari dalam keadaan beriman dan di sore hari menjadi kafir, atau di sore hari dalam keadaan beriman dan di pagi hari menjadi kafir. Dia menjual agamanya dengan sedikit kesenangan materi dunia." (HR. Muslim).

Inilah potret manusia akhir zaman yang kehilangan orientasi, begitu mudah menduakan bahkan menjual agamanya hanya demi mendapatkan materi duniawi yang tidak seberapa. Permasalahan mendasar manusia modern hari ini adalah kehilangan pegangan hidup yang kokoh. Di tengah arus informasi dan sekularisme, banyak yang bingung mengenai nilai apa yang sebenarnya berharga dan harus dipertahankan. Oleh karena itu, kehidupan kita harus dikembalikan pada fondasi nilai dasar yang absolut Iman.

Krisis nilai ini sebenarnya bukan barang baru. Dari masa ke masa, pola kerusakan moral seperti ini selalu berulang. Di tengah masyarakat Madinah pada zaman Rasulullah  pun, terdapat kelompok munafik yang buta terhadap batasan hak dan batil. Ketika mereka melakukan kerusakan yang mengacaukan tatanan sosial dan keagamaan, dengan angkuh mereka merasa sedang melakukan reformasi atau perbaikan. Allah  merekam watak mereka dalam Surah Al-Baqarah ayat 11–12:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ ﴿١١﴾ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ

Artinya: "Dan bila dikatakan kepada mereka: 'Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi', mereka menjawab: 'Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.' Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya." (QS. Al-Baqarah: 11-12).

Mengapa mereka bisa menganggap aktivitas merusak sebagai sebuah kebaikan? Jawabannya adalah karena kedangkalan ilmu dan kebutaan hati. Kehancuran intelektual dan spiritual membuat mereka memandang kebatilan dengan kacamata kebenaran.

Hari ini, puncak kerusakan sistemik dan kedangkalan moral tersebut dipertontonkan secara nyata di panggung dunia.  Bahwa Dunia menyaksikan bagaimana mayoritas kekuatan global sepakat mendukung entitas Israel dalam melakukan kejahatan kemanusiaan yang di luar batas nalar. Sudah lebih dari satu tahun lamanya, saudara-saudara muslim kita di Gaza dibombardir, diblokade, kelaparan, bahkan diambang pemusnahan massal.

Tragisnya, agenda pemusnahan ini disokong penuh oleh negara-negara adidaya seperti Amerika Serikat yang memegang kendali kekuatan dunia. Ini bukan sekadar konflik biasa, melainkan sebuah kerusakan yang direncanakan secara matang untuk mempertontonkan kezaliman dan meruntuhkan martabat kemanusiaan di hadapan mata dunia.

Menghadapi tatanan dunia yang timpang dan tantangan akhir zaman yang berat, kita tidak boleh lagi tinggal diam dan merasa cukup hanya menjadi umat yang salih (baik untuk diri sendiri). Kita dituntut naik kelas menjadi umat yang muslih (pelopor perbaikan bagi orang lain dan lingkungan). Orang yang salih hanya menyelamatkan dirinya, sedangkan orang yang muslih berjuang menyelamatkan kapalnya agar tidak karam dihantam badai zaman.

Memasuki bulan Muharram, bulan yang membawa semangat hijrah dan perubahan total, mari kita bersihkan diri kita dari penyakit syu—yaitu penyakit kikir ekstrem yang lahir dari ketamakan terhadap dunia. Sifat egois ini harus dikikis jika kita ingin membangun benteng umat yang kuat.

Kita harus menatap masa depan dengan penuh tanggung jawab. Jangan sampai egoisme hari ini membuat kita mewariskan masa depan yang kelam bagi anak cucu kita. Allah ﷻ memberikan peringatan yang sangat tegas dalam Surah An-Nisa ayat 9:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya: "Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar." (QS. An-Nisa: 9).

Ayat ini merupakan perintah bagi kita, manusia akhir zaman, untuk tidak meninggalkan generasi penerus yang lemahbaik lemah secara iman, lemah secara ilmu, lemah ekonomi, maupun lemah secara mental. Di tengah dunia yang direncanakan untuk merusak ini, tugas kita adalah membangun sistem pertahanan keluarga dan umat, mendidik mereka dengan nilai absolut Al-Qur'an, sehingga mereka tumbuh menjadi individu-individu muslih yang siap memperbaiki keadaan, bukan justru ikut tergilas oleh zaman.

Sebagaimana Rasulullah  membangun Madinah dengan masjid, persaudaraan, dan pasar, maka tugas kita hari ini adalah membangun kembali kekuatan umat melalui penguatan spiritual, persatuan sosial, dan kemandirian ekonomi. Semoga Allah menjadikan kita bukan hanya hamba-hamba yang saleh, tetapi juga muslih yang mampu menghadirkan perbaikan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar